Senin, 26 Oktober 2009

Aku Ingin Seperti Ayah....!

Sejenak aku terdiam, tersippu malu oleh langit biru yang tak lagi kelabu. Aku bukan 'GIGOLO' bukan pula 'BUAYA' JOMBLO. Tak dapat lagi kukatakan hari-hariku pada sang ibu yang selalu menunggu kehadiranku didepan pintu. Ya, pintu rumahku yang seakan membisu oleh kenangan-kenangan yang telah berlalu.
"Hai mah, ACHMAD pulang. Assalamu' alaikum?",Kata aku pada ibuku yang lagi santai sejenak setelah menungguku di pintu itu. "Wa'alaikum Salam," jawabnya. Aku tertunduk lesu setelah mencium tangan ibuku, tanppa berkata kata lagi, aku pergi ke kamar aku yang tak jauh dari pintu itu.
Tiba-tiba ibuku menegur, "MAD, tadi ada telppon." "Ya, dari siapa?" ,Kata aku sambil menuju ibu. Dalam benak aku, aku pastikan itu dari perusahaan atau institusi mana yang telah aku kirimi surat lamaran kerja. Ibuku mendekat, "Nak, Keke itu siapa? .... Dari tadi telpon kamu terus!" "Oh, temanku mah!" ,Jawabku. Aku heran kenapa Ibu mendadak geram. Aku tahu sifatnya bila mendapati aku telah punya teman wanita baru. Salah KAMI adalah tak dapat membayar tagihan telpon karena ulah adikku yang telah membengkak mencapai biaya jutaan, ya kira-kira 200 juta. Padahal tiap bulan, tanpa melakukan panggilan keluar, KAMI harus membayar cuma 35 ribu rupiah saja. Ya, KAMI sekarang mengandalkan handphone termurah yang dapat kami beli. Walau sekarang tagihan itu sudah tak lagi berlaku. Entah harus berterima kasih pada siapa tentang hal itu.
Setelah lama mengobrol tentang Keke. Ibu aku berkata; "Nantilah, kalau adik kamu, YADI..., udah kelar kuliahnya!" "Emang kenapa mah?" ,Tanyaku kesal. "Itu lho pacar kamu, mungkin dia ingin cepat menikah atau minta apa gitu dari kamu!" ,Jawab-NYA. Aku tertegun, lalu menjawab, "Iya mah beliin aku handphone baru dong, biar ACHMAD dapat kerja."
Dua hari berlalu, Ibuku sakit. Ayah yang tak pernah pulang pun aku rindukan. Kini, semua beban ditimpakan padaku.
AKU RINDU AYAH..........................................................................................................................
...............................................!
Ayahku merantau di negeri seberang, MalaySIA yang walaupun tak dapat kami kunjungi, beliau sekarang telah menjadi seseorang yang tak dapat kami ungkapkan dengan kata-kata. Seorang SOsOK yang telah mendarah daging dalam kehidupan KAMI; Ibu, ACHMAD dan YADI.
Aku ingin menjadi seperti Ayah.................!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar